ARKEOLOGI PRASEJARAH
Zaman prasejarah adalah suatu periode kebudayaan manusia yang masih terbatas dan sederhana. Pada masa ini pendukungnya belum mengenal tulisan dengan pola hidup sederhana, berpindah-pindah, berburu dan meramu. Perkembangan selanjutnya manusia mulai hidup menetap, bercocok tanam sampai tingkat mengenal penggunaan logam.
Zaman Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, Megalitikum dan Perundagian merupakan periodesasi zaman prasejarah yang dikenal di Indonesia.
Peninggalan zaman prasejarah di Sulawesi Tengah dari Masa Paleolitikum dan Masa Mesolitikum hingga saat ini belum ditemukan. Tetapi peninggalan tertua berasal dari Masa Neolitikum berupa penemuan kapak batu di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Poso pada tahun 1976. Sedangkan peninggalan Masa Megalitikum dan Masa Perundagian berupa temuan-temuan menhir, arca menhir, kalamba, tempayan kubur dan benda-benda yang terbuat dari logam seperti kapak perunggu yang tinggalannya tersebar di wilayah Sulawesi Tengah.
Zaman Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, Megalitikum dan Perundagian merupakan periodesasi zaman prasejarah yang dikenal di Indonesia.
Peninggalan zaman prasejarah di Sulawesi Tengah dari Masa Paleolitikum dan Masa Mesolitikum hingga saat ini belum ditemukan. Tetapi peninggalan tertua berasal dari Masa Neolitikum berupa penemuan kapak batu di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Poso pada tahun 1976. Sedangkan peninggalan Masa Megalitikum dan Masa Perundagian berupa temuan-temuan menhir, arca menhir, kalamba, tempayan kubur dan benda-benda yang terbuat dari logam seperti kapak perunggu yang tinggalannya tersebar di wilayah Sulawesi Tengah.
![]() |
| Proses pembuatan kain kulit kayu di lembah bada |
- Tinggalan Masa Mesolitikum, seperti Fosil Gajah Purba/Stegodon di wilayah Napu Kecamatan Lore, Kabupaten Poso.
- Tinggalan Masa Neolitikum, seperti Tradisi Pembuatan Kain Kulit Kayu (Peralatan dan Berbagai Bentuk Kain Kulit Kayu) dan tradisi Pembuatan Gerabah.
- Tinggalan Masa Megalitikum, seperti Patung/Batu Arca, Kalamba, Gerabah Kubur dan Gelang Batu.
- Tinggalan Masa Perundagian, seperti Tau-tau,Taiganja dan Sagala.
ARKEOLOGI KLASIK
Berbagai Tinggalan Keramik Asing :
- Keramik Cina dari berbagai Macam Dinasti, seperti Dinasti Tang, Yuan, Sung, Ming dan Ching.
- Keramik Jepang, Muangthai dan Vietnam.
Islam mengalami pertumbuhan dan perkembangan, dibuktikan dengan berdirinya
organisasi-organisasi Islam seperti : pada tahun 1917 Syariat Islam masuk ke Sulawesi Tengah (12 tahun setelah Belanda menjajah di Sulawesi Tengah).
Untuk Kabupaten Donggala dan Kota Palu langsung dibawa sendiri oleh pendirinya yaitu HOS Tjokroaminoto, sedangkan untuk wilayah Toli-toli dibawa oleh seorang kerabatnya yaitu Sastro Kardono. Organisasi lain yang didirikan di Palu, yang kemudian menjadi suatu organisasi besar dan sangat berjasa dalam pengembangan agama Islam di Sulawesi Tengah adalah organisasi “Al-chaeraat”, serta dibuktikan dengan peninggalan arkeologi Islam di Sulawesi Tengah seperti bangunan Mesjid Tua di Bungku, Mesjid Tua Una-una, Mesjid Tua di Palu.
Selain itu, terdapat pula peninggalan Makam Penyiar Agama Islam dan Raja-raja, Naskah-naskah Kuno dan Kaligrafi.
ARKEOLOGI KOLONIAL
Peninggalan Benteng Pertahanan atau Bunker Veilbox di Pesisir Pantai Toli-Toli.
DR. Adriani tiba di kota Poso pada bulan Desember
1895, ia melakukan pembuatan peta geografi dan
topografi atas seluruh wilayah yang didatanginya. Akhirnya ia meninggal pada tahun 1926 di kota itu dan dimakamkan di tempat pemakaman umum yang sekarang menjadi situs.
Peninggalan lainnya pada masa ini adalah Bangunan Gereja Tua (GereJa Katolik) di Jl. Patimura dan Gudang PKKD (Pusat Koperasi Kopra Donggala) di Gunung Bale.
Budaya
Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.
Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.
Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang dan hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.
Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat.
Kesenian
Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti suling, gong dan gendang. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino - musik tradisional - ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian dimana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II.
Senjata Tradisional
Senjata tradisional masyarakat Sulawesi Tengah adalah Parang (Guma).Sumber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar